Pakar ITB Jelaskan Penyebab Longsor Pasirlangu Karena Faktor Alamiah
- account_circle Editor
- calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
- visibility 55
- comment 0 komentar
- print Cetak

Longsor Pasirlangu terlihat dari kejauhan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
seword.id/ – BANDUNG. Duka mendalam masih menyelimuti warga Desa Pasirlangu dan warga Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Bencana longsor secara bersamaan pada Sabtu 24/01/2026 lalu terjadi di dua lokasi Kecamatan Cisarua yang menyebabkan puluhan korban jiwa meninggal dunia, meratakan rumah akibat tertimbun material longsor.
Lalu, bagaimana musibah longsor tersebut bisa terjadi ? apa penyebabnya ?
Pakar sekaligus dosen geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Eng Imam Achmad Sadisun S.T., M.T menyebutkan, kejadian tersebut disebabkan oleh interaksi faktor alamiah yang kompleks.
Imam menjelaskan, wilayah Bandung Barat cenderung memiliki lingkungan geologi sisa produk vulkanik tua. Oleh karena itu, lapisan pelapukan di daerah ini relatif tebal.
Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar kecil, sehingga kedap air. Bahkan, kerap menjadi bidang gelincirnya.
Kondisi tersebut semakin parah jika terjadi hujan yang lama dan intensitas tinggi. Akhirnya, air meresap dan mengisi pori-pori tanah.
“Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” ujarnya, mengutip dari laman ITB, Selasa (27/1/2026).
Selain faktor geologi, Imam melihat longsor ini berkaitan erat dengan hulu salah satu sungai di lereng selatan Gunung Burangrang. Hulu tersebut menutup alur sungai dan membentuk sumbatan atau bendungan.
Air akhirnya tertahan sementara dan menjadi genangan di hulu. Selain itu, pada bagian tersebut juga ada akumulasi lumpur, pasir dan batu.
Saat bendungan sudah tak mampu menahan banyaknya air, bendungan pun jebol. Aliran lumpur kemudian bergerak ke arah hilir mengikuti jalur sungai.
Tak hanya air, aliran tersebut mengandung lumpur, bongkahan batu, dan ranting-ranting kayu. Sehingga membuat rumah-rumah korban rusak bahkan tertutup lumpur tebal.
“Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai,” katanya.
Imam menyebut fenomena yang banyak disebut sebagai longsor ini lebih bisa dibilang aliran lumpur (mud flow) atau aliran debris (debris flow).
Imam kemudian mengingatkan warga sekitar terhadap potensi bahaya longsor atau aliran lumpur susulan. Pasalnya, di sekitar sana masih ada sumbatan di hulu sungai.
Apabila terjadi lagi hujan dengan intensitas tinggi, maka akumulasi air pada sumbatan bisa naik. Jebolnya bendungan mungkin bisa terjadi kembali dan menyebabkan aliran ke wilayah hilir.
“Bahaya tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah tersebut berada, tetapi bisa datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya,” katanya.
Mitigasi Bencana Aliran Lumpur
Menurut Imam, ada tiga cara mitigasi yang bisa dilakukan untuk mencegah bencana aliran lumpur ini terjadi kembali. Pertama menyetabilkan lereng di bagian hulu dengan menutup alur sungai.
Kedua, melakukan pantauan aliran dengan geofon, sensor getaran, dan kamera pemantau. Ketiga, pembangunan struktur penghalang aliran lumpur, tanggul pengelak, pagar pemecah aliran, atau penampung aliran.
Terakhir, Imam membeberkan tanda-tanda kejadian serupa. Mulanya kejadian semacam ini akan diawali dengan menyusutnya atau hilangnya aliran air sungai secara tiba-tiba.
Hal itu menandakan adanya sumbatan di bagian hulu. Tanda ini merupakan alarm bahaya, terlebih jika terjadi saat hujan deras.
“Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut saat hujan lebat, masyarakat harus waspada dan segera menjauh dari alur sungai,” katanya.
Sementara, dari pantauan udara, terlihat dampak yang cukup parah, di mana material tanah menimbun area permukiman dan mengubah lanskap perbukitan yang sebelumnya hijau menjadi hamparan tanah coklat.***
- Penulis: Editor
